Pedagang Kuliner Keluhan Kelangkaan & Mahalnya Gas Elpiji

banner 468x60

PRABUMULIH,Suarasumsel.net -- Sejumlah pedagang kuliner di sejumlah titik strategis dalam wilayah Kota Prabumulih, sejak 1 bulan terakhir mengeluhkan kelangkaan dan mahalnya harga gas elpiji isi 3 kg yang diperlukan untuk bahan bakar mengolah makanan kuliner sehingga berdampak pada penurunan omzet.

Salah seorang pedagang martabak di Jalan Padat Karya Ilyas (45) mengatakan, kelangkaan gas elpiji sudah mulai dirasakan sejak 1 bulan terakhir, namun mencari pasokan gas elpiji terasa lebih sulit kendati dengan harga mahal lebih terasa sejak 2 minggu terakhir.

"Kira-kira 1 bulan lalu kekosongan persediaan gas elpiji baru dirasakan hanya pada sejumlah titik agen atau pengepul yang sudah menjadi langganan tetapi masih bisa ditemukan di tempat-tempat lain, tapi 2 minggu terakhir sering kali semua titik agen/pengepul yang ada di Kota Prabumulih mengalami kekosongan persediaan," katanya.

Ilyas mengungkapkan, terkendalanya persediaan pasokan gas elpiji yang menjadi bahan bakar pokok mengolah bahan untuk membuat martabak mengakibatkan menurunnya hasil produksi dan omzet penjualan karena jika persediaan gas elpiji kosong sama sekali tentunya tidak dapat berjualan.

Hal senada juga dipaparkan pedagang kuliner lainnya, Wiwied (38) yang sehari-harinya berjualan pempek di Mangga Besar juga mengeluhkan menurunnya omzet penjualan akibat kelangkaan persediaan gas elpiji, jika setiap 1 minggu dirinya bisa menjual 1 ribu - 1.200 pempek maka setelah kelangkaan gas dirinya hanya mampu menghabiskan 600 - 800 pempek.

"Biasanya 1 tabung gas elpiji isi 3 kg cukup untuk persediaan saya mengolahan bahan baku pempek hingga siap jual selama 3 hari dengan jumlah produksi 200 pempek per hari, tapi dengan langkanya pasokan gas, saya bahkan pernah 1 - 2 hari tidak mendapatkan gas elpiji meskipun sudah berkeliling kota Prabumulih," keluhnya.

Wiwed berharap, pemerintah melalui instansi terkait segera mencari penyebab terjadinya kelangkaan gas elpiji ini, karena kelangkaan ini sangat menyulitkan para pedagang kuliner yang mengolah bahan baku kuliner diluar rumah dan sangat berdampak pada kemampuan ekonomi terlebih lagi saat pandemi belum berakhir.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pro Jokowi (Projo) Kota Prabumulih, Luthfianto melalui Sekretarisnya, Efriyadi saat dimintai komentarnya menyayangkan terjadinya kelangkaan dan mahalnya gas elpiji hingga ada pengecer yang menjual diatas Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Jika sebelumnya, harga gas elpiji isi 3 kg dalam keadaan normal hanya sebesar Rp 18 ribu/tabung maka saat ini karena faktor persediaan yang terbatas harga 1 tabung bisa mencapai Rp 28 ribu - 35 ribu per tabung, hal ini tentu akan memicu pedagang kuliner menaikkan harga karena biaya produksi yang naik," ujarnya.

Kendati demikian, Efriyadi juga menyampaikan terimakasih dan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah kota Prabumulih dibawah kepemimpinan Ir H Ridho Yahya karena kelangkaan pasokan gas elpiji ini tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat Prabumulih pada umumnya karena 90 % rumah di Prabumulih sudah tersambung gas kota.

"Walaupun demikian, jika kelangkaan dan mahalnya pasokan gas elpiji tidak segera diatasi tentunya akan tetap berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat kota Prabumulih itu sendiri, untuk itu diharapkan kepada Pemerintah pusat untuk segera mencari solusi kelangkaan gas elpiji yang terjadi merata di wilayah Provinsi Sumatera Selatan ini," pungkasnya. (Nov)

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Comments are closed.